Dibentuk oleh Perbedaan: Rahmat Hidup Bersama dalam Komunitas.
Sebuah Opini/Refleksi:
Saya ingin memulai refleksi ini dengan sebuah kalimat dari dokumen Gereja Vita Consecrata: “Pembinaan religius harus dipandang sebagai proses yang berlangsung sepanjang hidup, yang membantu pribadi religius untuk semakin menyerupai Kristus” (VC, no. 69). Kalimat ini selalu terasa sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Ia mengingatkan bahwa hidup membiara bukanlah sesuatu yang selesai pada saat profesi pertama ataupun profesi kekal. Sebaliknya, hidup religius adalah sebuah perjalanan panjang yang terus membentuk hati kita dari hari ke hari.
Selama kurang lebih dua puluh enam tahun menjalani hidup membiara, saya semakin menyadari bahwa mengikuti Kristus tidak pernah berhenti pada satu titik tertentu. Tantangan dan rahmat datang silih berganti melalui berbagai pengalaman: pelayanan, relasi dengan sesama, serta kehidupan bersama dalam komunitas. Pada awal panggilan, saya pernah membayangkan komunitas sebagai tempat yang sangat damai, penuh pengertian, dan hampir tanpa gesekan. Namun perlahan-lahan saya belajar bahwa kehidupan bersama jauh lebih nyata dan manusiawi daripada bayangan itu. Justru di dalam dinamika itulah Tuhan bekerja membentuk hati kita.
Komunitas religius mempertemukan banyak pribadi yang berbeda. Kita datang dari daerah, budaya, usia, pendidikan, serta pengalaman hidup yang tidak sama. Perbedaan itu sering tampak dalam cara berkomunikasi, cara mengambil keputusan, kebiasaan sehari-hari, bahkan dalam cara menghayati spiritualitas dan pelayanan. Tidak jarang perbedaan tersebut memunculkan ketegangan atau kesalahpahaman kecil. Namun seiring waktu saya belajar bahwa perbedaan bukanlah masalah utama. Yang menjadi tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kita menyikapinya.
Paus Fransiskus pernah mengingatkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman bagi kesatuan; justru dapat memperkaya jika dihidupi dengan semangat kasih dan dialog (Fratelli Tutti, no. 217). Ketika saya merenungkan hal ini, saya mulai melihat komunitas dengan cara yang berbeda. Dalam satu komunitas, mungkin ada saudari yang sangat teratur dan disiplin. Ada pula yang spontan dan penuh kreativitas. Ada yang lebih pendiam dan reflektif, sementara yang lain mudah bergaul dan penuh energi. Jika dilihat sepintas, perbedaan seperti ini bisa menjadi sumber ketegangan. Namun jika dipandang dalam terang iman, semuanya justru dapat menjadi kesempatan untuk saling melengkapi.
Perbedaan sering kali memaksa kita keluar dari diri sendiri. Ia menantang ego yang ingin menjadi pusat. Pada saat yang sama, ia mengundang kita untuk belajar mendengarkan dengan lebih sabar dan memahami dengan hati yang lebih luas. Di sinilah saya mulai melihat rahmat tersembunyi dalam hidup bersama. Apa yang tidak saya miliki, mungkin dimiliki oleh saudari yang lain. Sebaliknya, apa yang menjadi kekuatan saya, bisa menjadi dukungan bagi orang lain. Dengan cara itu, komunitas perlahan menjadi gambaran kecil dari Gereja. Santo Paulus menggambarkan kenyataan ini dengan sangat indah ketika ia menulis bahwa seperti tubuh yang satu memiliki banyak anggota, demikian pula Kristus (1 Kor 12:12). Tubuh tidak terdiri dari satu bagian saja. Setiap anggota memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya diperlukan agar tubuh itu hidup.
Demikian pula komunitas religius. Kesatuan tidak berarti keseragaman. Justru dalam keberagaman itulah kesatuan menemukan maknanya. Tentu saja perjalanan ini tidak selalu mudah. Ada saat ketika kita harus belajar meminta maaf dengan tulus. Ada saat ketika kita perlu mengampuni. Bahkan ada saat ketika kita dipanggil untuk tetap mencintai meskipun hati terasa lelah. Namun justru melalui pengalaman-pengalaman kecil itulah Tuhan membentuk kedewasaan rohani kita. Sering kali kita berpikir bahwa pembinaan terjadi terutama melalui retret, rekoleksi, studi teologi, atau bimbingan rohani. Semua itu memang penting. Akan tetapi, kehidupan sehari-hari dalam komunitas sebenarnya adalah sekolah pembinaan yang paling nyata. Di sanalah kita belajar kesabaran, kerendahan hati, dialog, pengampunan, dan kasih yang konkret.
Dokumen Perfectae Caritatis menegaskan bahwa hidup komunitas adalah tempat istimewa untuk mengalami kehadiran Tuhan dan bertumbuh dalam kasih persaudaraan (PC, no. 15). Karena itu, agar kehidupan bersama menjadi sumber sukacita, kita dipanggil untuk menghidupi apa yang disebut Paus Yohanes Paulus II sebagai spiritualitas komunio. Ia mengatakan bahwa spiritualitas komunio adalah kemampuan untuk melihat apa yang positif dalam diri orang lain dan menerimanya sebagai anugerah Tuhan (Novo Millennio Ineunte, no. 43).
Pada akhirnya saya semakin percaya bahwa hidup bersama dalam perbedaan memang tidak selalu mudah. Namun justru di sanalah Tuhan bekerja dengan cara yang sangat sederhana. Setiap perbedaan menjadi kesempatan untuk memperluas hati, belajar mencintai lebih dalam, dan perlahan-lahan semakin menyerupai Kristus. Karena pada akhirnya, pembinaan sepanjang hayat bukan terutama tentang menjadi lebih pandai dalam pelayanan, melainkan tentang menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam kasih.
Oleh:
Sr. Agustina Ranteallo, SJMJ
Dalam keberagaman kesatuan menemukan maknanya.
Jakarta, 8 Maret 2026
