Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

“Jeda yang menghidupkan”

” Saat Roda Besi Berhenti: Menemukan Makna dalam Setiap Detik Penantian”
Pasar Senen: Awal ziarah, Perjalanan Spiritual yang Mendalam.

Kereta Api tujuan Jakarta-Madiun terlambat, seperti mimpi yang tertunda.  Tiga jam lamanya.  Tiga jam yang menjadi Dua Puluh Empat jam. Bukan sekadar keterlambatan, tapi sebuah metafora, sebuah cerminan dari banyak hal yang terjadi dalam hidup. Awalnya, ada rasa kesal, Rasanya seperti ada energi yang terbuang sia-sia, waktu yang dicuri. Tapi kemudian, sesuatu berubah.  Di tengah hiruk-pikuk penumpang lain yang juga frustrasi, saya menemukan ketenangan yang tak terduga.  Saya mengeluarkan buku yang sudah lama ingin saya baca. Kata-kata di halaman itu seakan menenangkan badai emosi di dalam diri saya. Saya menyadari, bahwa terkadang, ketidakpastian dan keterlambatan bisa menjadi kesempatan sejenak, untuk bernapas, untuk merenungkan.

Dua puluh empat jam itu, bukan hanya waktu yang hilang, tapi juga waktu yang ditemukan.  Waktu untuk merenungkan yang sedang saya jalani, dan arah hidup ke depan.  Saya menyadari betapa seringnya saya terburu-buru, betapa seringnya saya mengabaikan hal-hal kecil yang sebenarnya penting.

Keterlambatan kereta itu mengajariku kesabaran, yang selama ini kurang kusadari. Ia mengajariku untuk menerima ketidakpastian, untuk menemukan kedamaian di tengah kekacauan. Ia juga mengajariku untuk menghargai waktu, bukan hanya sebagai angka di jam, tapi sebagai kesempatan untuk tumbuh dan belajar.  Keterlambatan kereta mengajariku bahwa kendala adalah bagian dari perjalanan. Saya akan terus melangkah maju, lebih siap dan lebih bijak, dengan setiap pengalaman sebagai bekal untuk mencapai tujuan.  Untuk selanjutnya, saya akan berusaha untuk lebih bijak dalam merencanakan waktu, tetapi juga lebih siap menerima hal-hal yang diluar kendali. Saya akan berusaha untuk menemukan kedamaian di tengah keterlambatan, dan bahkan, menemukan berkat tersembunyi di dalamnya.

Keterlambatan tersebut ternyata memberikan kesempatan yang tak terduga untuk introspeksi diri, seolah menjadi waktu khusus untuk menata kembali pikiran. Ironisnya, situasi yang awalnya menimbulkan kekesalan justru berubah menjadi berkat yang tersembunyi. Kini, saya menjadi lebih tenang dalam menghadapi masalah dan lebih mampu menerima hal-hal di luar kendali.  Meskipun kekesalan mungkin tetap terasa saat kereta mengalami penundaan, saya merasa lebih siap secara mental.  Intinya, dari kejadian ini, saya belajar untuk tetap tenang karena seringkali terdapat hikmah tersembunyi di balik hal-hal yang membuat kita merasa tidak nyaman. Karena di salah kita menemukan kekuatan untuk bertumbuh.

Oleh:

Sr. Fiona Suluh, SJMJ 
Menemukan kedamaian di tengah kekacauan.
Jakarta, Cengkareng – 21 Agustus 2025

Leave a comment