Suatu pengalaman yang meneguhkan bagi saya dan para suster yang lain di Provinsi Makassar ketika mengikuti Raker Provinsi Makassar di Panti Samadi Malino pada tanggal 3 – 6 Juni 2026. Di tempat yang kudus ini kami hadir bersama dengan Dewan Pimpinan Provinsi makassar, para Pemimpin Komunitas, Pemimpin Karya Kerasulan dan Formator berefleksi bersama sejauh mana kami telah melaksanakan hasil Implementasi Arah dasar Kongregasi yang tertuang dalam 7 komitmen: Spiritualitas, Komunitas, Cara-Cara Baru, Pembinaan, Kepemimpinan Sinodal, Penabur Harapan untuk Alam Raya dan Solidaritas. Waktu empat hari yang cukup padat ini menjadi kesempatan berefleksi, berbagi, dan saling meneguhkan lewat materi dan sharing bersama dalam kelompok. Kami menyadari bahwa pencapaian hasil Implementasi Arah Dasar Kongregasi yang tertuang dalam 7 komitmen tersebut bukan sekedar angka-angka yang dicapai, namun yang paling penting adalah sejauh mana kegiatan atau praktik hidup yang tertuang dalam 7 komitmen tersebut menjadi pedoman dalam komunitas dan karya kerasulan serta menjadi suatu cara hidup dalam hidup bersama atau hidup membiara sehingga kualitas hidup yang dijalankan di komunitas maupun karya kerasulan serta pembinaan menjadi suatu yang bermakna bagi perkembangan kualitas diri, hidup komunitas, hidup kerasulan dan pembinaan.
Raker tahun ini lebih berfokus pada komitmen kedua yaitu Komunitas. Dengan mengusung tema: Penguatan Hidup Komunitas sebagai Perjalanan Bersama dalam Mewujudkan Arah Dasar Kongregasi. Dengan sub tema: Membangun Komunitas yang Autentik, Transformatif, Partisipatif, Inklusif, Solider dan Membawa Harapan dalam Terang Spiritualitas dan Kharisma Kongregasi. Bagi saya sebagai pribadi yang terus belajar dan berjuang dalam kehidupan panggilan dan perutusan saya, tema ini sangat mengispirasi dan meneguhkan. Saya semakin disadarkan dan diteguhkan dalam menjalani kehidupan komunitas yang sesungguhnya. Komunitas harus menjadi tempat yang memberi inspirasi, memancarkan sukacita, kelembutan, penerimaan dan penghargaan terhadap keanekaragaman sebagai kesaksian eskatologis dari Kerajaan Allah. Terinspirasi dari Konstitusi Art 12: Komunitas religius dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah melalui hidup persaudaraan yang berakar dalam kasih, doa, penerimaan dan kesaksian hidup bersama. Saya menyadari bahwa komunitas bukan hanya menjadi tempat tinggal bersama melainkan ruang perjumpaan, pertumbuhan, dan transformasi bersama sehingga komunitas yang dijalani menjadi tempat untuk berjalan bersama dimana setiap anggota mengalami penerimaan, dukungan, pendampingan, dan penguatan untuk tetap setia pada panggilan dan perutusan.
Tak dapat dipungkiri bahwa keadaan sesunggunya yang seharusnya terjadi dalam komunitas sesuai dengan apa yang tertuang dalam konstitusi dan peraturan-peraturan lainnya tidak benar-benar dipraktikan dalam kehidupan komunitas. Komunitas terkadang menjadi tempat yang kurang harmonis, menjadi tempat persaingan satu dengan yang lain, tempat dimana perbedaan dan keberagaman kurang dihargai serta semangat kasih kurang ditampakan dalam praktik hidup setiap hari. Berhadapan dengan situasi ini, kami diteguhkan lagi dengan refleksi dan animasi oleh Sr. Sandra Supit, SJMJ, Provinsial Provinsi Makassar dengan tema yang sangat menginspirasi yaitu: Harapan Yang Mengubah melalui Penguatan Hidup Berkomunitas. Lewat tema ini saya diajak untuk senantiasa melihat komunitas sebagai tempat yang kudus di mana setiap anggota harus diterima, harus bertumbuh, serta mampu menghidupi kasih di tengah perbedaan, dan dari semua itu menjadi sumber kekuatan perutusan. Karena dari komunitas yang berakar dalam iman, harap dan kasih memampukan setiap anggota untuk dapat menjalankan perutusan dengan baik dan bertanggung jawab. Komunitas juga harus menjadi tempat yang kuat dalam fondasi rohani lewat kehidupan doa dan sakramen-sakramen. Komunitas yang selalu berdoa bersama akan mampu berjalan bersama.
Akhirnya semoga pengalaman Raker tahun ini menjadi momen perjalanan bersama bagi saya dan rekan-rekan suster lainnya untuk berefleksi dan berbagi inspirasi yang meneguhkan dalam perjalanan bersama selanjutnya. Semoga hidup komunitas yang dijalani tidak hanya menjadi tempat tinggal yang kosong, tetapi menjadi tempat yang kudus di mana kasih dan sukacita selalu diwartakan dan dipancarkan oleh setiap anggota sehingga setiap orang yang dijumpai merasakan kehadiran Tuhan lewat pewartaan dan kesaksian hidup. Komunitas bertumbuh ketika setiap anggota berkata: Ini komunitasku dan aku ikut bertanggujawab membangunnya.
Oleh:
Sr. Maria M. Kobun, SJMJ
Bersama membangun komunitas yang Bahagia.
Malino, 6 Juli 2026
