Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketika bumi mengeluh dengan caranya, siapa yang harus berubah? Apakah bumi atau kita penghuninya?

Pernahkah kita membayangkan jauh sebelumnya, bagaimana bumi marah, menangis, emosi, meluapkan perasaannya? Apakah kita sudah menyadari bagaimana bumi menyediakan apa yang kita butuhkan setiap hari, bagaimana bumi memberi segala yang kita butuhkan dan bagaimana bumi membuat kita punya cerita setiap hari?. Saya merefleksikan dalam kehidupan saya saat ini bahwa cara saya memperlakukan bumi dan alam sesungguhnya dapat menceritakan sesuatu dalam diri saya sendiri. Tentang apa yang saya anggap penting, kebiasaan yang sulit diubah, dan sejauh mana saya mau bertanggungjawab atas kehidupan yang ada disekitar saya.

Dalam kehidupan religius, setiap hari kita berdoa, bekerja, belajar, melayani, berkarya, membantu orang lain dan banyak hal yang kita lakukan. Namun, ditengah kesibukan itu pernahkah kita berhenti sejenak untuk menyadari dan memperhatikan bagaimana kegiatan tersebut mungkin merusak alam kita, bagaimana penggunaan barang-barang yang menghasilkan sampah, bagaimana dengan air yang kita gunakan, dan bagaimana dengan bahan bakar yang kita gunakan setiap hari, kita tidak bermaksud merusak alam, namun kita hanya terbiasa menjalani hidup dengan cara yang paling mudah, dan tanpa sadar kadang kita melakukan sesuatu yang kecil dengan dampak yang besar. Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku dan tindakan manusia dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk kebiasaan, emosi, lingkungan sosial, dan pandangan pribadi atau motivasi dan tujuan hidup, sehingga manusia cenderung mengulangi tindakan yang sama karena terasa mudah dan sudah biasa dilakukan atau menormalisasi kebiasaan. Hal ini juga berpengaruh pada cara pandang kita terhadap lingkungan disekitar kita.

Saya mengajak kita merenungkan sebuah pernyataan “ jangan-jangan kita terlalu sibuk mengharapkan dunia ini berubah, tetapi kita tidak siap dengan perubahan itu”. Kita sangat mudah prihatin dan sedih ketika terjadi banjir, kekeringan, kebakaran, bahkan bencana alam lainnya yang saat ini kita rasakan dan alami. Namun, kepedulian yang hanya berhenti pada perasaan dan perkataan saja tidak dapat menghasilkan perubahan nyata, karena hal itu merupakan sifat alamiah manusia. Sebagai seorang religius, panggilan untuk mengasihi tidak hanya berhenti pada karya dan tugas perutusan saja, tetapi ketika saya berhadapan dengan pilihan yang kadang terlihat mudah, namun sulit dilaksanakan, misalnya belajar menggunakan segala sesuatu dengan bijaksana, tidak mengambil atau menggunakan sesuatu secara berlebihan.

Paus Fransiskus, dalam ensiklik Laudato Si’ (2015), mengajak kita memahami bahwa krisis ekologis juga merupakan panggilan untuk melakukan pertobatan batin. Perubahan tidak cukup pada pengetahuan tentang lingkungan, tetapi membiarkan pengetahuan itu juga menggerakkan iman untuk mengubah cara berpikir, merasa, memilih, dan bertindak. Jika dalam Psikologi kita bisa memahami mengapa perubahan perilaku membutuhkan proses, maka dalam iman kita diajarkan mengapa perubahan itu penting : karena kita dipanggil untuk mengasihi Allah, sesama, dan seluruh ciptaan-Nya.

Jika Pater Wolff berkata “ seorang Suster JMJ harus memeluk 4 benua dalam hatinya” (PDR II BAB IV), maka ia mengharapkan bahwa kita memiliki kepedulian yang besar terhadap dunia ini, bukan hanya soal karya tetapi bagaimana kita mampu merangkul dunia yang luas ini, sehingga jika dunia kita sedang terluka, maka ia punya hati yang memeluknya. Maka mari kita mulai perubahan itu dari hal sederhana, yang mungkin sudah pernah atau sedang kita upayakan dan lakukan bersama misalnya : menggunakan botol minum sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air dan listrik, merawat tanaman, serta menggunakan barang-barang dengan lebih bertanggungjawab. Hal ini bisa dilakukan dan lebih mudah bertumbuh ketika dilakukan bersama, dalam komunitas, menjadi teladan, membangun kebiasaan baik, tidak menormalisasi kebiasaan buruk, membangun komitmen dalam diri.

Kita memang tidak mungkin menyelesaikan persoalan lingkungan hidup dalam sehari, namun persoalan itu dapat diselesaikan jika berkomitmen dalam hidup sehari-hari, sehingga merawat bumi bukan hanya tentang menyelamatkan alam, tetapi membentuk manusia yang lebih sadar, rendah hati, dan bertanggungjawab. Sebab bagaimana kita bisa mengasihi Sang Pencipta jika tidak bersedia belajar merawat ciptaan-Nya.

Oleh:

Sr. Vigilia Lumi, SJMJ

Kita dipanggil untuk mengasihi Allah, sesama, dan seluruh ciptaan-Nya.

Surabaya, 27 Oktober 2026 

Leave a comment

Terima kasih telah mengunjungi !

ALAMAT

Jl. Trimargo Wetan No.1
Kelurahan Cokrodiningratan
Kecamatan Jetis,
Yogyakarta 55233
INDONESIA

KONTAK


scsjmj@gmail.com

+62-813-9310-0843

Kongregasi SJMJ © 2018. Semua Hak Dilindungi Undang-undang.

error: Content is protected !!