Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Era Vuca: “Berakar kuat, Dahan lentur, Berbuah bijaksana”

Mengikuti kegiatan Mind and Soul Meet Up Student Religius membuat saya merenungkan banyak hal tentang diri saya, terutama ketika tema yang diangkat adalah era VUCA: berakar kuat, dahan lentur, dan berbuah berkualitas. Di tengah dunia yang terus berubah, penuh ketidakpastian, kompleks, dan sering kali membingungkan, saya merasa tema ini sangat relevan dengan perjalanan hidup saya sebagai mahasiswa. Saya semakin sadar bahwa saya tidak bisa hanya berjalan mengikuti arus, tetapi perlu memiliki dasar yang kokoh, sikap yang lentur, dan hidup yang benar-benar memberi manfaat. 

Bagi saya, “berakar kuat” berarti memiliki iman, nilai, dan jati diri yang tidak mudah goyah. Kegiatan ini mengingatkan saya bahwa sebelum saya mampu menghadapi dunia luar, saya harus terlebih dahulu membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan dan dengan diri saya sendiri. Akar yang kuat membuat saya tidak mudah runtuh saat menghadapi tekanan, kegagalan, atau perubahan yang datang begitu cepat. Di situ saya belajar bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari tampilan luar, melainkan dari kedalaman hati dan keteguhan iman. 

“Dahan lentur” menjadi pengingat bahwa hidup di era VUCA menuntut saya untuk tidak kaku. Saya perlu belajar menerima perubahan, membuka diri terhadap hal baru, dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip. Ini bukan perkara mudah, karena saya sering ingin semuanya berjalan sesuai rencana. Tetapi dari refleksi ini saya belajar bahwa kelenturan justru membuat saya lebih tahan menghadapi situasi yang tidak pasti. Saya melihat bahwa sikap seperti ini juga sejalan dengan semangat Magnifica Humanitas, yang menekankan pentingnya menjaga martabat manusia di tengah perubahan zaman. Artinya, saya dipanggil untuk tetap bijak, terbuka, dan manusiawi dalam menghadapi tantangan. 

Saya juga memahami bahwa era VUCA sangat berkaitan dengan IGEN dan SKD, karena keduanya menuntut saya untuk terus bertumbuh, belajar, dan siap menghadapi tuntutan yang berubah. Dalam situasi seperti ini, saya tidak bisa hanya mengandalkan kebiasaan lama atau berpikir secara sempit. Saya perlu terus mengembangkan diri, memperkuat karakter, dan membiasakan diri untuk adaptif. IGEN dan SKD menjadi bagian dari proses pembentukan saya agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu berkembang secara utuh. Semua itu membuat saya semakin sadar bahwa perubahan zaman menuntut kesiapan hati, ketekunan, dan kedewasaan iman. 

Di tengah era VUCA, saya juga belajar untuk terkoneksi tanpa terobsesi. Saya ingin tetap terhubung dengan perkembangan zaman, media, dan komunitas, tetapi tidak sampai diperbudak oleh notifikasi, perbandingan sosial, atau kebutuhan untuk selalu terlihat aktif. Koneksi yang sehat membuat saya tetap terbuka dan relevan, sedangkan obsesi justru membuat saya mudah lelah, gelisah, dan kehilangan kedalaman batin. Dari sini saya belajar bahwa tidak semua hal harus diikuti, dan tidak semua hal yang ramai harus membuat saya ikut larut.

Digital skill Saya juga semakin menyadari pentingnya membedakan antara digital skill dan digital wisdom membuat saya mampu menggunakan teknologi dengan baik, tetapi digital wisdom menuntun saya untuk memakai teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan manusiawi. Bagi saya, kecakapan digital tanpa kebijaksanaan hanya akan membuat hidup menjadi cepat, tetapi belum tentu benar. Karena itu, saya perlu belajar bukan hanya untuk bisa menggunakan teknologi, tetapi juga untuk tahu kapan harus berhenti, memilah, dan menempatkannya pada tujuan yang baik.

Refleksi ini juga membuat saya peka terhadap individualistis attitude yang sering muncul di zaman sekarang. Saya sadar bahwa mudah sekali bagi saya untuk terjebak dalam sikap mementingkan diri sendiri, atau sibuk dengan pencapaian pribadi. Namun kegiatan ini mengingatkan saya bahwa hidup yang baik tidak dibangun oleh ego yang kuat, melainkan oleh relasi yang sehat, kepedulian, dan kemampuan untuk hadir bagi sesama. Saya ingin belajar menjadi pribadi yang tidak hanya fokus pada “aku”, tetapi juga pada “kita”. 

Selain itu, saya melihat pergumulan antara homo faber, homo ludens, dan phono sapiens sebagai gambaran nyata kehidupan modern. Sebagai homo faber, saya terdorong untuk terus bekerja, menghasilkan, dan membangun sesuatu. Sebagai homo ludens, saya juga butuh ruang untuk refresh, bernapas, dan menikmati hidup dengan bahagia. Namun di tengah keduanya, saya belajar menjadi phono sapiens, pribadi yang mampu mendengar, merenung, dan memberi makna pada setiap pengalaman. Saya tidak ingin hidup hanya sebagai pekerja yang sibuk atau pencari hiburan yang kosong, tetapi sebagai manusia yang sadar, bijaksana, dan utuh. 

Sementara itu, “berbuah berkualitas” mengajarkan saya bahwa hidup saya harus menghasilkan sesuatu yang nyata dan baik bagi sesama. Saya tidak ingin hanya sibuk atau terlihat aktif, tetapi ingin sungguh memberi dampak. Buah yang berkualitas bagi saya adalah sikap yang tulus, pelayanan yang setia, dan kehadiran yang membawa damai bagi orang lain. Dalam terang Magnifica Humanitas, saya melihat bahwa buah terbaik adalah hidup yang memanusiakan manusia, yang tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga memperhatikan kebaikan bersama. 

Setelah mengikuti kegiatan ini, saya dipanggil untuk menjadi pribadi yang lebih utuh: akar saya harus makin dalam, hati saya harus makin lentur, dan hidup saya harus menghasilkan buah yang semakin baik. Saya sadar bahwa proses ini tidak instan, tetapi justru melalui proses inilah saya dibentuk menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi dunia, lebih peka terhadap sesama, dan lebih setia pada panggilan hidup saya. Di tengah era VUCA, saya ingin terus bertumbuh bukan hanya agar kuat menghadapi perubahan, tetapi juga agar tetap membawa terang dan menjadi Perantara Belaskasih

Oleh:

Sr. Fiona Suluh, SJMJ
Kecakapan digital tanpa kebijaksanaan hanya akan membuat hidup menjadi cepat, tetapi belum tentu benar.

RPCB Syantikara Yogyakarta, 2 Juli 2026

Leave a comment

error: Content is protected !!