R.P. Mathias Wollf, SJ mengatakan “Komunitas merupakan sumber kekuatan penting yang dari padanya kita dapat menimba kekuatan untuk melaksanakan karya kerasulan kita”
Sebagai suster SJMJ hidup dalam komunitas merupakan sebuah persekutuan yang didasarkan pada panggilan iman, pelayanan, dan kehidupan bersama dalam semangat persaudaraan. Hidup yang dibangun atas dasar komitmen untuk melayani Tuhan serta sesama. Hidup bersama dalam komunitas tidak hanya sebagai rekan kerja dalam pelayanan, tetapi juga sebagai saudari dalam Kristus yang saling menopang dalam perjalanan panggilan. Dalam kehidupan bersama ini, komunikasi memiliki peranan yang sangat penting.
Komunikasi menjadi unsur yang sangat penting dalam kehidupan bersama di komunitas. Tanpa komunikasi yang sehat dan empatik, kehidupan bersama dapat dipenuhi kesalahpahaman, konflik yang tidak terselesaikan, serta hubungan yang kurang harmonis. Oleh karena itu, membangun komunikasi yang sehat dan empatik menjadi sebuah kebutuhan mendasar agar kehidupan komunitas dapat berkembang secara spiritual, emosional, dan sosial. Komunikasi yang sehat dan empatik membantu menjaga keharmonisan komunitas, memperkuat persaudaraan, serta mendukung pertumbuhan spiritual setaip anggota.
Komunikasi yang sehat dalam komunitas berarti adanya keterbukaan, kejujuran, dan sikap saling menghargai dalam setiap percakapan. Komunikasi empatik juga menuntut sikap kerendahan hati. Setiap anggota memiliki keterbatasan dan sudut pandang yang berbeda. Kerendahan hati membantu anggota komunitas untuk tidak merasa paling benar, tetapi bersedia belajar dari pengalaman dan pandangan orang lain. Sikap ini sangat penting dalam menghindari konflik yang tidak perlu serta membangun dialog yang saling memperkaya.
Setiap anggota dalam komunitas memiliki latar belakang keluarga, budaya, serta pengalaman hidup yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat memperkaya kehidupan bersama, namun juga dapat menjadi sumber kesalah pahaman jika tidak disertai dengan komunikasi yang baik. Oleh karena itu, kemampuan untuk berkomunikasi dengan penuh perhatian dan empati menjadi keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan komunitas.
Langkah pertama dalam membangun komunikasi sehat tentunya belajar mendengarkan secara aktif. Mendengarkan secara aktif berarti memberikan perhatian kepada anggota yang sedang berbicara, tanpa terburu-buru memberikan penilaian atau tanggapan. Dalam kehidupan komunitas, sering kali seseorang hanya ingin didengarkan dan dipahami. Dengan mendengarkan secara sungguh-sungguh, seorang religius menunjukkan penghargaan terhadap pengalaman dan perasaan saudarinya. Sikap ini membantu menciptakan rasa aman dan kepercayaan di dalam komunitas.
Selain mendengarkan, keterbukaan dalam menyampaikan perasaan dan pikiran juga sangat penting. Dalam komunitas, terkadang anggota menahan perasaan atau kesulitan yang mereka alami karena takut menimbulkan konflik. Namun, jika perasaan tersebut terus dipendam, hal itu dapat menimbulkan jarak dalam relasi persaudaraan. Oleh karena itu, penting bagi setiap anggota untuk belajar mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan cara yang jujur, namun tetap penuh kasih. Komunikasi yang jujur membantu mencegah kesalahpahaman dan memperkuat hubungan antar anggota komunitas.
Empati menjadi unsur penting dalam komunikasi di komunitas. Dalam kehidupan bersama, empati dapat diwujudkan dengan berusaha melihat situasi dari sudut pandang yang lain. Misalnya, ketika seorang anggota mengalami kelelahan dalam pelayanan atau pergumulan pribadi, anggota komunitas yang lain dapat menunjukkan kepedulian melalui kata-kata yang menenangkan, doa bersama, atau bantuan sederhana dalam tugas sehari-hari. Sikap empatik seperti ini membantu menciptakan suasana komunitas yang penuh kasih dan saling mendukung.
Selain itu, kehidupan doa bersama memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang sehat. Doa membantu setiap anggota komunitas untuk menata hati, mengembangkan kerendahan hati, serta membuka diri terhadap karya Tuhan dalam kehidupan bersama. Ketika kita berdoa bersama, kita tidak hanya memperdalam relasi dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat relasi persaudaraan satu sama lain. Doa membantu anggota komunitas untuk melihat sesama sebagai saudari yang sama-sama dicintai oleh Tuhan.
Kegiatan komunitas seperti rekoleksi, doa bersama, makan bersama, rekreasi bersama, dan refleksi bersama juga dapat memperkuat komunikasi antar anggota. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut, kita memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman, saling mengenal lebih dalam, serta mempererat hubungan persaudaraan. Hubungan yang akrab dan penuh kepercayaan akan memudahkan anggota komunitas untuk berbicara dengan jujur dan terbuka.
Pada akhirnya, membangun komunikasi sehat dan empatik dalam komunitas merupakan proses yang membutuhkan kesadaran dan komitmen dari setiap anggota. Ketika komunikasi dijalankan dengan penuh kasih dan empati, komunitas akan menjadi tempat yang menumbuhkan kedamaian, memperkuat iman, serta mendukung panggilan hidup setiap anggotanya. Semoga sebagai suster SJMJ, kita semakin di mampukan membangun komunikasi yang sehat dan empatik bukan hanya sekedar keterampilan sosial, tetapi juga bagian dari panggilan spiritual dalam kehidupan religius kita. Melalui komunikasi yang penuh kasih, komunitas dapat menjadi tanda nyata kasih Tuhan yang hidup di tengah dunia.
Oleh:
Sr. Yosepina Dariani, SJMJ
Komunikasi yang jujur membantu mencegah kesalahpahaman dan memperkuat hubungan antar anggota.
Makassar, 15 Maret 2026
