Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Makna Hidup Berkomunitas dalam Hidup Bakti

Keluarga adalah rumah pertama tempat sebuah komunitas dibangun. Dari keluarga saya mulai belajar makna kehidupan bersama.  Waktu dilahirkan, saya berjumpa dengan orang tua, saudara, dan orang-orang di sekitar saya. Di dalam keluargalah pertama kali saya belajar hidup bersama melalui pengalaman-pengalaman sederhana yang terjadi setiap hari. Dalam kebersamaan itu saya merasakan kasih, cinta, perhatian, dan kebaikan Tuhan yang hadir melalui berbagai pengalaman suka duka yang kami jalani bersama.

       Pengalaman hidup dalam keluarga menyadarkan saya bahwa keluarga merupakan komunitas pertama tempat saya belajar tentang kerendahan hati, kasih, kesabaran, dan pengampunan. Dari pengalaman-pengalaman sederhana itulah saya memahami bahwa hidup selalu bersama dengan orang lain.

       Dari keluarga, saya dipanggil untuk melangkah lebih jauh, hidup bersama dengan orang lain dalam komunitas. Panggilan itu bertumbuh dalam perjalanan hidup saya. Setiap hari saya belajar tentang makna hidup berkomunitas melalui berbagai peristiwa dan pengalaman sederhana. Saya belajar bukan hanya tentang diri saya sendiri, tetapi juga bagaimana hidup bersama orang lain sehingga kebersamaan itu dapat tetap terpelihara dan bertahan.

Dalam kehidupan berkomunitas saya dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang, karakter, budaya, dan cara berpikir yang berbeda. Hidup dan berjalan bersama dalam perbedaan-perbedaan tersebut saya sadari tidak selalu mudah, ada saat dimana perbedaan itu menghadirkan tantangan dan kesulitan. Tetapi dalam perjalanan bersama saya berusaha menemukan hal-hal positif yang menjadi ruang untuk membantu saya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih terbuka sehingga komunitas menjadi tempat untuk semakin memurnikan dan menguduskan panggilan satu sama lain. 

Hidup berkomunitas mengajarkan saya untuk semakin menghargai kehidupan. Setiap orang dipanggil untuk menghidupkan orang lain. Ketika menjalani masa pembinaan di Manado hingga sekarang, saya terinspirasi semangat hidup masyarakat Minahasa. Nilai dan budaya hidup masyarakat Minahasa dalam falsafah yang dihidupkan oleh Prof. Dr. Sam Ratulangi, “Si Tou Timou Tumou Tou”, manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain, mengingatkan kita bahwa tujuan hidup manusia bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk membantu, menghargai, dan mengembangkan sesama agar setiap orang dapat bertumbuh bersama.

       Pengalaman tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa hidup berkomunitas lebih dari sekadar tinggal bersama dan menjalani rutinitas yang sama setiap hari. Hidup berkomunitas adalah sebuah kesaksian hidup yang nyata. Kesaksian itu tampak dalam hal-hal sederhana dalam keseharian, seperti kasih, penerimaan satu sama lain, pengampunan, perhatian, rasa hormat, penghargaan, kesabaran, kerendahan hati, serta keterbukaan untuk mendengarkan.

Komunitas menjadi tempat memelihara kehidupan rohani. Berdoa bersama, berbagi pengalaman hidup, dan saling meneguhkan dalam iman. Dalam kebersamaan itu komunitas menjadi kesaksian bahwa kita dipanggil untuk hidup dalam persatuan, kasih, dan persaudaraan.

Di dalam komunitas, setiap hari tersedia rahmat dan kasih Tuhan, tinggal bagaimana saya mau membuka diri untuk menerima hal tersebut. Karena di dalam rahmat dan kasih Tuhan ada sebuah proses dan nilai yang perlu diperjuangkan. Perbedaan menjadi ruang bagi iman dan pengharapan untuk semakin dikuatkan sehingga komunitas menjadi sebuah rumah yang hidup, sebuah home, tempat setiap orang merasa nyaman, diterima, didukung, dihargai, dan didoakan. Dari pengalaman itu komunitas bagi saya adalah rahmat yang patut disyukuri setiap saat.

       Pada akhirnya kita semua diajak untuk semakin menyadari bahwa mengikuti Tuhan melalui hidup bakti tidak hanya dihayati dalam doa dan permenungan, tetapi juga dalam perjalanan hidup bersama sebagai komunitas, dimana setiap pribadi semakin bertumbuh dan menghayati panggilan hidup secara lebih mendalam, dilatih dan melatih diri untuk hidup dalam kasih dan persaudaraan. Hidup bakti menjadi sebuah perjalanan iman yang dihidupi bersama dimana setiap pribadi menemukan dukungan, kekuatan, dan semangat untuk menjalani panggilan dan perutusan.

       Yesus sendiri memberi teladan tentang hidup bersama. Dalam Injil Markus 3:13–19 diceritakan bahwa Yesus memanggil para murid untuk hidup bersama dengan-Nya. Para murid belajar bukan hanya dari ajaran Yesus, tetapi juga dari kebersamaan sehari-hari: berjalan bersama, makan bersama, dan menghadapi berbagai pengalaman bersama.

       Karena itu, hidup berkomunitas adalah rahmat yang patut kita syukuri sekaligus menjadi tanda dan kesaksian eskatologis kerajaan Allah. Dalam komunitas kita dipanggil untuk hidup bersama, berdoa, rekreasi dan bekerja sama dengan rekan lain. Kita menunjukkan rasa hormat dan penghargaan terhadap karakter setiap pribadi (Konst. Art. 28)

       Mari kita hidup dalam semangat Compassion, Collaboration dan Sisterhood untuk membangun komunitas yang menjadi rumah kehidupan tempat setiap pribadi bertumbuh, dikuatkan, dan diutus menjadi saksi kasih Tuhan yang hidup kepada sesama.

Oleh:

Sr. Maria Virgini Pasumbung, SJMJ
Si Tou Timou Tumou Tou (manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain)

Manado, 13 Maret 2026

Leave a comment

error: Content is protected !!