(Tulisaan ini merupakan refleksi atas berakhirnya Tahun Yubileum Pengharapan 2025 dalam Terang Kharisma Kongregasi SJMJ)
Paus Leo XIV mengakhiri Tahun Yubileum Pengharapan 2025 dengan menutup Porta Sancta (Pintu Suci), Basilika St Petrus, Vatikan, Selasa (6/1/2026), pukul 10.00 waktu Roma. Lalu dilanjutkan dengan Misa Epifani (Penampakan Tuhan), yang diikuti 5.800 umat, termasuk Korps Diplomatik yang terakreditasi di Takhta Suci, Vatikan.
Dalam doa penutupnya, Paus mengucapkan kalimat yang sederhana namun sangat dalam: “Pintu Suci ini tertutup, tetapi pintu rahmat-Mu tidak tertutup.” Bagi kita para suster SJMJ, kata-kata ini menjadi undangan untuk Kembali merenungkan panggilan hidup bakti yang kita jalani setiap hari: panggilan untuk tetap hidup dalam harapan dan membagikannya, bahkan Ketika tidak ada lagi tanda-tanda besar atau perayaan istimewa.
Kharisma Kongregasi SJMJ berakar pada semangat hidup Pater Pendiri, Pater Mathias Wolff, yang dengan penuh kepercayaan menyerahkan hidupnya pada penyelenggaraan Allah. Dari semangat inilah kita belajar bahwa harapan sejati tidak dibangun di atas situasi yang mudah atau nyaman, melainkan pada iman yang teguh akan Allah yang setia menyertai. Hidup religius menurut semangat Pater Pendiri mengajak kita untuk berjalan dengan sederhana, rendah hati, dan penuh kepercayaan, bahkan Ketika jalan terasa gelap atau tidak pasti.
Pelindung Kongregasi kita: Yesus Maria Yoseph hidup dalam kesederhanaan, ketaatan, dan kerja sehari-hari. Dari mereka kita belajar bahwa kekudusan tidak selalu lahir dari hal-hal besar, melainkan dari kesetiaan dalam hal-hal kecil. Kehidupan Keluarga Kudus mengingatkan kita bahwa pintu Rahmat Allah terbuka lebar justru di dalam kehidupan yang biasa: dalam rumah, dalam kerja, dalam kebersamaan, dan dalam kesunyian doa.
Ketika Pintu suci Basilika ditutup, hidup kita sebagai suster SJMJ dipanggil untuk menujadi “Pintu yang terbuka” bagi sesama. Dalam doa yang setia, dalam hidup komunitas, dan dalam pelayanan sehari-hari. Kita menghadirkan wajah Allah yang penuh belarasa. Tanpa banyak kata, kehadiran kita dapat menjadi tempat orang lain merasa diterima, dikuatkan, dan diharapkan Kembali.
Refleksi ini juga mengajak kita untuk melihat kehidupan komunitas sebagai ruang utama tempat semangat Yubileum terus hidup. Komunitas bukan sekedar tempat tinggal, tetapi rumah Rohani di mana setiap suster belajar saling menopang, saling mengampuni, dan bertumbuh Bersama. Di sinilah semangat Yesus, Maria, dan Yoseph dihidupi secara nyata; dalam kesederhanaan, kesabaran, dan cinta yang setia.
Akhirnya, meskipun Pintu suci telah tertutup, peziarahan kita sebagai Suster SJMJ tidak pernah berhenti. Kita terus berjalan sebagai peziarah pengharapan, meneladan semangat Pater Pendiri dan Keluarga Kudus dengan keyakinan bahwa Allah tetap membuka pintu Rahmat-Nya melalui hidup dan kesetiaan kita. Semoga hidup kita sendiri menjadi kesaksian bahwa harapan Kristiani selalu hidup, selalu hadir, dan tidak pernah mengecewakan.
Oleh:
Sr. Margaretha Wasti, SJMJ
Meskipun Pintu suci telah tertutup, peziarahan kita sebagai Suster SJMJ tidak pernah berhenti.
Yogyakarta, 6 Januari 2026

1 Comment
DreamProxies
you are my inspiration , I possess few blogs and rarely run out from to post : (.