.
Menabur Harapan, Menuai Masa Depan mengajak kita pada sebuah perjalanan spiritual yang mendalam tentang makna panggilan religius di zaman ini. Menabur harapan bukanlah sekadar tindakan optimisme manusiawi, melainkan partisipasi aktif dalam karya Allah yang terus menerus menciptakan kehidupan baru. Seperti petani yang dengan penuh keyakinan menaburkan benih di tanah yang masih gelap, kita dipanggil untuk menanamkan harapan bahkan di situasi yang tampaknya tidak berprospek. Harapan kristiani yang sejati berakar pada Kebangkitan Kristus, kemenangan definitif terang atas kegelapan, hidup atas maut. Proses menabur ini membutuhkan keberanian untuk percaya ketika hasil tidak segera terlihat, ketekunan untuk terus bekerja meski menghadapi skeptisisme, iman yang teguh bahwa Allah bekerja melalui tangan-tangan kita, dan pengorbanan diri untuk kepentingan masa depan yang lebih baik.
Seperti halnya tema kapitel Kongregasi SJMJ tahun 2023 “Berjalan bersama sebagai Nabi pengharapan diwaktu Fajar” memberikan dimensi yang lebih dalam pada panggilan menabur harapan. “Berjalan bersama” menekankan solidaritas dalam misi, di mana setiap suster dengan karisma dan talenta uniknya berkontribusi dalam karya besar menabur harapan. Ketika kita berjalan bersama, kekuatan individual menjadi kekuatan kolektif yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan lebih efektif. Sebagai “nabi pengharapan,” kita dipanggil menjadi saksi hidup bahwa Allah masih berkarya di dunia, berani menyuarakan kebenaran di tengah relativisme moral, dan menghadirkan alternatif kehidupan yang autentik. “Waktu fajar” melambangkan masa transisi dari kegelapan menuju terang, dari krisis menuju pembaruan. Dunia saat ini berada dalam “waktu fajar” yang membutuhkan pendamping bijaksana untuk menavigasi masa transisi ini. Sebagai nabi pengharapan, kita dipanggil membantu manusia melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang dibawa hari.
Kehidupan religius yang transformatif menciptakan visi holistic (utuh) di mana, setiap kita dipanggil menjadi “ruang harapan” di mana anggota saling menguatkan, keragaman karisma dihargai, dan doa terintegrasi dengan aksi nyata. Dalam pelayanan, setiap karya pendidikan, kesehatan, pastoral menjadi arena untuk menabur harapan melalui kualitas pelayanan yang unggul, perhatian khusus pada mereka yang marginal atau terpinggirkan, dan inovasi dalam menjawab kebutuhan zaman. Meski menghadapi tantangan sekularisasi, digitalisasi, dan pluralisme, era kontemporer juga membuka peluang melalui jejaring global, kepekaan ekologis, dan gerakan keadilan sosial. Seperti fajar yang pasti datang setelah malam yang paling gelap, kita dipanggil menjadi pembawa fajar bagi dunia yang bergumul dengan berbagai tantangan. Dengan menabur harapan hari ini melalui langkah profetik, karya pembibitan harapan, dan doa sebagai partisipasi dalam karya Allah, kita sedang mempersiapkan masa depan yang lebih cerah untuk generasi mendatang, masa depan di mana komunitas religius menjadi pusat pembaruan spiritual dan sosial, dan dunia menjadi tempat yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan.
Oleh:

Sr. Maria Sondakh, SJMJ
Dipanggil menjadi pembawa fajar bagi dunia yang bergumul.
Kupang – 25 Juli 2025