Menyatu dengan Alam, Sesama dan Sang Pencipta…
Di tengah derasnya arus dunia modern, kita sering diajarkan bahwa kebebasan adalah ketika kita berdiri sendiri, tak bergantung pada siapa pun. Namun, benarkah itu kebebasan sejati?
Sesungguhnya, kita tak pernah benar-benar hidup sendiri. Setiap napas yang kita hirup berasal dari pohon-pohon yang tanpa suara memberi hidup. Setiap butir nasi di piring kita adalah hasil kerja petani dan kemurahan bumi. Setiap tetes air yang mengalir adalah wujud kasih setia alam yang tak henti memberi.
Kita bukan makhluk yang terpisah. Kita adalah bagian dari jejaring kehidupan yang saling terhubung—dengan sesama manusia, dengan ciptaan lainnya, dan dengan Sang Pencipta.
Inilah yang disebut ketergantungan yang membebaskan.
Bukan “Aku”, Tapi “Kita”
Ketika kita mengakui bahwa hidup bukan hanya tentang “aku”, tapi tentang “kita”, maka kita mulai merasakan kebebasan sejati—bebas dari kesombongan, dari keserakahan, dari kesendirian. Dalam kesadaran ini, kita belajar untuk melangkah lebih lembut, lebih bijak, dan lebih bersyukur.
Saya percaya, alam bukan sekadar benda mati yang kita manfaatkan. Alam adalah sahabat, bahkan pewarta kasih Allah. Relasi ini bukan relasi antara pemilik dan milik, melainkan relasi kasih yang saling menghidupkan.
Menemukan Tuhan dalam Kesederhanaan
Setiap pagi, sebelum dunia riuh, saya mencoba diam sejenak. Saya hirup udara dalam-dalam, rasakan hangat cahaya mentari, dan dengarkan kicauan burung. Di saat itulah saya sadar: hidup ini bukan milik saya sepenuhnya. Segala sesuatu adalah pemberian.
Ketika saya menutup keran air dengan benar, saya sedang menjaga berkat. Saat saya tidak membuang sampah sembarangan, saya sedang menjaga tubuh bumi agar tetap layak dihuni. Saat saya menanam pohon atau sekadar merawat tanaman kecil, saya ikut menyembuhkan dunia.
Pelajaran dari Ciptaan
Gunung mengajarkan keteguhan. Laut menunjukkan kedalaman. Bintang-bintang malam mengingatkan kita bahwa hidup ini jauh lebih besar dari apa yang bisa kita lihat. Dalam keterpesonaan akan ciptaan, saya menemukan kerendahan hati—dan justru di sanalah saya merasa dicintai.
Alam juga mengajarkan tentang kesetiaan. Angin yang datang setiap hari, hujan yang turun pada waktunya, semuanya seolah berkata: “Aku di sini, setia, sebagaimana Sang Pencipta setia padamu.”
Mencintai alam bukan sekadar kewajiban moral. Ia adalah jalan rohani—sebuah bentuk ibadah yang hening, namun dalam. Di dalamnya, kita menyentuh wajah kasih Allah yang hadir dalam daun yang berguguran, dalam hujan yang turun, dalam bumi yang terus memberi.
Mari memandang dunia dengan mata kasih. Sebab hanya dengan kasih, kita bisa melihat bahwa segala yang tampak biasa adalah mukjizat yang terus bekerja.
By. Sr. Maria Goncalves – Kom. Adonara – Flores Timur – NTT