Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah membawa kita pada sebuah peristiwa yang sederhana, namun sarat makna. Maria dan Yoseph datang ke Bait Allah bukan dengan kekuatan, harta, atau jaminan masa depan, melainkan dengan iman dan ketaatan. Mereka mempersembahkan yesus sepenuhnya kepada Allah, sambil percaya bahwa Allah sendiri yang akan menuntun jalan hidup-Nya. Dalam terang peristiwa ini, hidup bakti diajak Kembali merenungkan panggilan dasarnya: hidup yang dipersembahkan, hidup yang bersandar pada Allah, dan hidup yang dijalani dengan setia dalam kesederhanaan sehari-hari.
Di dunia modern, rasa aman sering dicari melalui pengetahuan, kenyamanan materi, dan relasi manusiawi. Godaan ini pun tidak luput menyentuh hidup bakti. Tanpa disadari, ada kecenderungan untuk berharap bahwa gelar akademik, fasilitas yang memadai, atau kedekatan dengan orang-orang tertentu dapat menjamin kebahagiaan dan ketekunan panggilan.
Padahal, semua itu bukanlah dasar utama hidup bakti. Pengetahuan penting, namun ia hanyalah sarana untuk melayani. Kenayamanan materi dapat menunjang karya, tetapi tidak boleh menjadi pusat hidup. Relasi persaudaraan sangat berharga, tetapi tidak pernah dapat menggantikan kepercayaan penuh kepada Allah. Ketika hal-hal tersebut dijadikan sandaran utama, hidup bakti perlahan menjauh dari semangat Yesus, Maria, dan Yoseph yakni semangat hidup yang sederhana, rendah hati, dan sepenuhnya percaya pada penyelenggaraan Allah.
Kembali ke Inti Hidup Bakti
Hidup bakti bertumbuh dari keintiman dengan Allah, yang kemudian mewujud dalam kesaksian hidup yang sederhana dan profetis, serta dipelihara dalam persaudaraan sejati melalui penghayatan kaul ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian. Di Tengah budaya hedonism, konsumerisme, dan individualism, hidup bakti dipanggil untuk menjadi tanda yang berbeda:
- Taat seperti Yesus yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Bapa
- Sederhana seperti Maria yang menyimpan dan merenungkan segala perkara dalam hatinya
- Setia seperti Yoseph yang diam-diam melakukan kehendak Allah tanpa banyak kata
Kesaksian hidup seperti inilah yang paling berbicara, lebih kuat dari pada penjelasan atau argumentasi apa pun.
Hidup Bakti dan Panggilan Kaum Muda
Kenyataan menurunnya minat kaum muda terhadap hidup bakti di banyak tempat mengajak kita untuk berefleksi dengan rendah hati. Mungkin bukan karena hidup bakti kehilangan relevansinya, melainkan karena kesaksian hidup kita belum cukup jernih dan menggugah.
Namun, harapan tetap ada. Masih ada kaum muda yang tertarik pada hidup bakti karena mereka melihat keindahan hidup bersama, ketulusan pelayanan, dan kepedulian terhadap mereka yang kecil, miskin, dan terluka, termasuk keprihatinan akan keadilan sosial dan keutuhan ciptaan. Mereka merindukan hidup yang bermakna dan bukan sekadar nyaman.
Makna Khusus bagi Kongregasi SJMJ
Bertepatan dengan perayaan liturgis Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, pengesahan Kongregasi Suster-Suster Jesus Maria Joseph (SJMJ) pada 2 Februari 2019 menjadi tanda penyelenggaraan ilahi yang sarat makna. Kebetulan tanggal ini bukan sekadar peristiwa administratif Gereja, melainkan peneguhan panggilan.
Sebagaimana Yesus dipersembahkan di Kenisah sebagai milik Allah sepenuhnya, demikian pula Kongregasi SJMJ dipersembahkan kepada Gereja untuk ambil bagian dalam perutusan Kristus. Sejak awal, perjalanan Kongregasi ini diletakkan dalam terang misteri penyerahan diri yakni hidup yang tidak dipegang untuk diri sendiri, melainkan diserahkan bagi Allah dan pelayanan Gereja.
Tanggal ini menjadi pengingat akan panggilan dasar Kongregasi: mempersembahkan hidup secara total kepada Allah, berjalan dalam terang Kristus, serta setia melayani sesuai dengan kharisma yang telah dipercayakan
Menjadi Terang yang Tenang dan Setia
Seperti lilin yang diberkati pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, hidup bakti dipanggil untuk menyala dengan setia. Bukan untuk menonjol, melainkan untuk menerangi. Lilin tidak bertanya apakah ia aman, tetapi apakah cahayanya berguna bagi sesama.
Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah mengajak kita semua, terutama para hidup bakti untuk kembali merenungkan makna persembahan hidup, panggilan, dan kesetiaan. Semoga melalui perayaan ini, setiap anggota Kongregasi SJMJ semakin diteguhkan untuk terus mempersembahkan hidup dengan sederhana dan penuh iman, sehingga terang Kristus tetap bersinar di tengah Gereja dan dunia.
Oleh:
Sr. Margaretha Wasti, SJMJ
Kesaksian hidup berbicara lebih kuat dari pada penjelasan atau argumentasi apa pun.
Yogyakarta, 2 Februari 2026
