Tak ada kepedihan yang lebih dalam dari pada menyaksikan harapan yang pernah kita miliki menjadi lemah dan sirna. Kita menyaksikan dengan rasa sedih dan tak berdaya, karena kita tahu, tidak ada lagi yang dapat kita lakukan selain diam dan menyendiri. Thomas salah satu Murid Yesus merasa sedih dan terpukul, ketika menyaksikan kematian Gurunya. Mengalami itu, ia lebih memilih diam dan menyendiri dari pada bergabung bersama murid yang lain. Baginya kematian Yesus di Salib membawa serta seluruh harapan-harapannya.
Pada titik tertentu dalam hidup, mungkin kita pernah mengalami seperti yang dialami oleh Thomas. Merasa ditinggalkan, dan dikecewakan oleh orang-orang yang kita banggakan atau kasihi. Reaksi kitapun mungkin sama menyendiri, sedih, kecewa bahkan merasa Tuhan pun meninggalkan kita.
Dalam situasi demikian, apakah harapan itu benar-benar sirna? Apakah Tuhan benar-benar meninggalkan kita? Dalam belas kasihNya yang tidak terhingga, Tuhan datang menampakan diri serta menyapa Thomas ‘Damai Sejahtera Bagimu’. Sapaan sederhana yang membuka tabir harapan baru. Sapaan yang membawa kesadaran baru bagi yang mendengarnya. Sehingga segala bentuk rasionalitas dan bukti-bukti yang dibutuhkan untuk pembenaran“sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukan jariku kedalam bekas paku itu dan mencucukan tanganku kedalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya”- tidak dibutuhkan. Setelah disapaNya yang tersisa hanyalah kekaguman dan kerendahan hati yang mendalam “Ya Tuhanku Dan Allahku”.
Pada akhirnya hidup menjadi lebih bermakna karena mengakui kebenaran sederhana, bahwa kehidupan yang terpukul hanya dapat disembuhkan dengan oleh iman dan cinta. Iman dan cinta akan Dia yang bangkit dari gelapnya maut. Disini yang dibutuhkan hanyalah kesadaran yang terus-menerus, bahwa dalam situasi apapun, Tuhan tetap datang membawa terang bagi gelapnya hidup kita. Kesadaran bahwa Ia datang membawa damai bagi konfliknya batin kita. Kesadaran bahwa terang Cinta-Nya itu terus menerus-menerus menyinari budi dan batin kita. Sampai pada akhirnya kita mengakui dan menyaksikan kebenaran kata-kata ini: “Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya”.
(Inspirasi Injil Yohanes 20:24-29)
Oleh:

Sr. Mariana Mbasal, SJMJ
Hati yang percaya
Ghana, 24 April 2025