“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kej. 2:15)
Sebuah tugas, bukan hak milik
Perhatikan kata kerjanya: Tuhan mengambil dan menempatkan. Manusia tidak merebut taman itu; ia dipercaya. Bumi adalah anugerah, dan kita adalah penerima titipan. Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ menegaskan hal ini: bumi adalah “rumah kita bersama”, ibarat saudari yang berbagi hidup dengan kita dan ibu cantik yang menyambut kita dengan tangan terbuka (LS 1).
Pater Mathias Wolff pun ditempatkan. Pada tahun 1816 ia diutus sebagai misionaris ke Culemborg, Belanda. Di sana ia melihat nasib gadis-gadis miskin yang terabaikan, lalu ia menjawabnya dengan mendirikan kongregasi pada 1822. Ia tidak menganggap panggilannya sebagai milik pribadi, tetapi sebagai titipan yang harus dijawab dengan pelayanan.
Mengusahakan dan memelihara: dua sisi satu panggilan.
Dalam bahasa Ibrani, kata untuk “mengusahakan” berarti juga melayani, dan “memelihara” (shamar) berarti menjaga dan melindungi. Jadi menurut Kitab Suci, bekerja bukan berarti menguras. Paus Fransiskus secara khusus menolak tafsir keliru atas perintah “taklukkanlah bumi” (Kej 1:28) yang dipakai untuk membenarkan dominasi tanpa batas. Ia menegaskan bahwa Kitab Suci tidak memberi dasar bagi dominasi yang tak bertanggung jawab atas ciptaan (LS 67). Panggilan kita adalah menjadi penjaga, bukan tuan yang sewenang-wenang.
Pater Wolff sering berkata kepada para suster bahwa ia ingin bekerja bagi Tuhan seperti raksasa. Semangat “mengusahakan” itu penuh daya, tetapi diarahkan untuk melayani, bukan menguasai. Raksasa dalam iman adalah yang kuat untuk menjaga, bukan untuk menguras.
Luka taman kita hari ini
Taman Eden itu kini berhadapan dengan banyak luka: hutan yang gundul, sungai yang tercemar, sampah plastik, perubahan iklim, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Di Indonesia kita mengenalnya lewat kabut asap, banjir, dan abrasi pantai. Laudato Si’ menyebut akar masalahnya: budaya “buang” dan konsumerisme yang memperlakukan alam dan sesama sebagai barang pakai (LS 22). Paus Fransiskus juga mengingatkan bahwa “krisis lingkungan” dan “krisis sosial” sesungguhnya satu krisis yang kompleks. Orang miskin adalah yang paling menderita (LS 48, 139). Seruan bumi dan seruan kaum miskin tak dapat dipisahkan (LS 49).
Seperti Pater Wolff, siapa “sesama” yang paling terabaikan di sekitar saya, dan bagaimana kerusakan lingkungan memperberat hidup mereka? Inilah yang membuat warisan Pater Wolff terasa dekat. Ia memilih berpihak pada mereka yang tersisih, dan ia mengajarkan bahwa hati yang paling damai adalah hati yang lepas dari diri sendiri dan hanya mencari Allah dalam segala sesuatu. Hati yang lepas seperti itulah penawar budaya “buang” dan keserakahan yang melukai bumi dan kaum miskin (LS 222-227).
Pertobatan ekologis
Paus Fransiskus mengajak kita pada pertobatan ekologis (LS 216-221): menyadari bahwa merusak ciptaan adalah dosa terhadap Sang Pencipta dan sesama. Ini bukan sekadar urusan kebijakan negara, tetapi perubahan hati dan gaya hidup. Tindakan kecil pun bermakna: tidak boros makanan, mengurangi plastik sekali pakai, menghemat air dan listrik, menanam pohon, memilah sampah, memilih transportasi yang ramah lingkungan. Paus mengatakan bahwa tindakan-tindakan kecil ini menumbuhkan kebaikan di dunia dan membangun kebiasaan baru (LS 212).
Pater Wolff mendirikan kongregasi untuk mendidik, sebab ia tahu perubahan bertahan lewat pembentukan hati. Laudato Si’ pun menekankan pendidikan ekologis yang membentuk kebiasaan dan tanggung jawab (LS 202-215). Di sekolah, rumah sakit, paroki, dan komunitas para Suster SJMJ di Indonesia, karya pendidikan dan pelayanan kini juga berarti mengajak anak-anak dan umat mencintai ciptaan.
Setia sampai akhir
Pater Wolff wafat penuh percaya pada belas kasih Allah, tiga hari setelah jatuh sakit pada 28 Oktober 1857. Penjaga taman yang sejati tidak memiliki tamannya. Ia mengusahakannya dengan sepenuh tenaga, memeliharanya dengan kasih, lalu mempercayakannya kembali kepada Sang Pemilik. Buahnya masih ada hingga kini: kongregasi SJMJ yang hadir di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Oleh:
Sr. Fiona Suluh, SJMJ
Hati yang paling damai adalah hati yang lepas dari diri sendiri dan hanya mencari Allah dalam segala sesuatu. Hati yang lepas seperti itulah penawar budaya “buang” dan keserakahan yang melukai bumi dan kaum miskin.
Jakarta, 31 Oktober 2026
Pesta Pendiri Kongregasi SJMJ
P. Mathias Wolff, SJ
