Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dari Hati Pendiri, Kita Melayani Bersama dan Mengalirkan Kasih Allah bagi Sesama

Minggu pagi, 18 Oktober 2026, suasana Lembang Uluway Barat, Kabupaten Tana Toraja, tampak berbeda dari biasanya. Di halaman kantor lembang yang dikelilingi perbukitan hijau, puluhan orang berkaus oranye berkumpul dengan penuh semangat. Mereka adalah tenaga kesehatan RS Fatima Makale, para suster dari Komunitas Sta. Maria Fatima Makale dan Komunitas Ge’tengan yang datang membawa satu tujuan: menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat.

Para Suster dan mitra misi dari RS Fatima Makale mengadakan bakti sosial dalam rangka Pesta Pendiri Kongregasi Suster JMJ, Pater Mathias Wolff, SJ, sekaligus memperingati HUT Sulawesi Selatan ke-357 tahun. Pelayanan ini juga didukung oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Toraja, UPT Puskesmas Tampo, dan Kalbe Nutritionals.

Mengapa pesta pendiri dirayakan lewat pelayanan? Jawabannya ada pada teladan Pater Mathias Wolff, SJ, yang dikenal sebagai sosok yang hatinya tergerak oleh penderitaan sesama. Semangat itulah yang diwariskan kepada Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph: kasih Allah tidak boleh berhenti sebagai kata-kata indah, tetapi harus menjelma menjadi tindakan konkret bagi mereka yang membutuhkan.

Bakti sosial di Uluway Barat adalah salah satu cara meneruskan warisan itu. Karena itu, pesta pendiri tidak hanya dirayakan dengan perayaan liturgis di dalam gereja atau kapel, tetapi juga dengan keluar menjumpai saudara-saudari di pelosok, di tempat yang mungkin jauh dari fasilitas kesehatan. Dalam perjumpaan seperti inilah belas kasih Allah menjadi nyata. Belas kasih Allah tidak turun dalam bentuk yang abstrak. Ia hadir melalui tangan yang memeriksa tekanan darah, senyum yang menenangkan pasien lansia dan anak-anak, telinga yang sabar mendengarkan keluhan, dan langkah kaki yang rela menempuh jalan berliku menuju kampung yang berada dibalik bukit-bukit.

Di sinilah makna menjadi perantara belas kasih Allah. Kita tidak menjadi sumber kasih itu, sebab sumbernya adalah Allah sendiri. Kita adalah saluran, seperti pipa yang mengalirkan air jernih kepada yang haus. Tugas kita sederhana namun mendalam: tidak menghalangi aliran itu, dan membiarkan kasih Allah mengalir melalui keterampilan, waktu, dan hati kita.

Hal ini sejalan dengan pesan Paus Fransiskus yang mengingatkan bahwa Gereja dipanggil untuk menjadi “rumah sakit lapangan”, hadir merawat luka-luka umat manusia di mana pun mereka berada. Bakti sosial ini adalah wujud nyata panggilan itu. Para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan bekerja bahu-membahu dengan para suster, bukan sekadar menjalankan profesi, tetapi menghidupi panggilan untuk melayani.

Semangat kebersamaan itu tampak jelas dalam penampilan mereka: para suster dan tenaga kesehatan mengenakan kaus oranye yang sama. Para suster tetap mengenakan jubah abu-abu dengan kalung salib di dada, tetapi di atasnya melekat warna yang sama dengan para relawan lainnya. Pemandangan sederhana ini menyampaikan pesan yang kuat: dalam pelayanan, tidak ada sekat antara para suster/biarawati dan awam, antara tenaga medis dan masyarakat. Semuanya adalah satu tubuh yang digerakkan oleh kasih yang sama.

Kebersamaan itu juga terpancar dari wajah-wajah mereka. Dalam kebersama, kegembiraan itu nampak terlihat begitu jelas seperti pada setiap potret foto dan video yang diambil. Ada yang sedang melayani dengan tawa yang begitu tulus, ada yang berfoto dengan membentuk simbol hati dengan jarinya, ada yang mengacungkan jempol, ada pula yang tersenyum lebar di balik masker. Sukacita itu bukan kebetulan. Orang yang melayani dengan tulus akan menemukan bahwa memberi ternyata juga menerima.

Sukacita itu pun menyentuh warga yang dilayani. Warga Uluway Barat datang dengan berbagai latar belakang dan kebutuhan. Ada yang memeriksakan kesehatan secara umum, ada yang datang untuk mencabut gigi, ada yang datang untuk disunat, ada yang mencari obat karena demam, ada yang sekadar ingin didengarkan. Para tenaga kesehatan dan suster menyambut semuanya dengan sikap yang sama, yaitu ramah, hormat, dan penuh perhatian lewat pelayanan dan sebuah bingkisan kecil untuk anak-anak, orang tua yang masih produktif juga untuk orang tua yang sudah lanjut usia.

Inilah wajah belas kasih yang sejati: tidak memilih-milih, tidak menghitung untung rugi, dan tidak menunggu dipuji. Seperti Orang Samaria yang murah hati dalam Injil, yang berhenti dan merawat orang asing yang terluka di tepi jalan, para pelayan hari itu “berhenti” dari kesibukan rutin untuk hadir bagi sesama.

Semua itu tentu tidak terwujud sendirian. Keberhasilan kegiatan ini lahir dari kerja sama banyak pihak. Rumah sakit, komunitas suster, pemerintah daerah, puskesmas, dan mitra swasta menyatukan sumber daya demi satu tujuan. Kolaborasi ini mengajarkan bahwa belas kasih bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga gerakan bersama. Ketika banyak tangan bersatu, jangkauan kasih menjadi lebih luas dan dampaknya lebih besar.

Pada akhirnya, bakti sosial di Uluway Barat telah usai, tetapi semangatnya tidak boleh berhenti di sana. Pesta Pendiri mengajak kita bertanya dalam hati: sudahkah aku menjadi perantara belas kasih Allah bagi orang-orang di sekitarku?

Mungkin kita tidak selalu punya kesempatan melayani di desa terpencil. Namun setiap hari ada kesempatan kecil di tempat kerja seperti rumah sakit, sekolah, kantor, di rumah, dan di tengah masyarakat untuk menjadi tangan Allah yang menolong, telinga Allah yang mendengar, dan hati Allah yang peduli. Kiranya semangat Pater Mathias Wolff, SJ terus hidup dalam diri para suster, dan siapa pun yang rela menjadi saluran kasih Allah bagi sesama.

Oleh:

Sr. Maria A. Sondakh, SJMJ

Pesta Pendiri mengajak kita bertanya dalam hati: sudahkah aku menjadi perantara belas kasih Allah bagi orang-orang di sekitarku?

Tana Toraja, 30 Oktober 2026 

Leave a comment

Terima kasih telah mengunjungi !

ALAMAT

Jl. Trimargo Wetan No.1
Kelurahan Cokrodiningratan
Kecamatan Jetis,
Yogyakarta 55233
INDONESIA

KONTAK


scsjmj@gmail.com

+62-813-9310-0843

Kongregasi SJMJ © 2018. Semua Hak Dilindungi Undang-undang.

error: Content is protected !!