Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bunga yang tetap mekar di ujung Poleang (sebuah kisah iman)

Sebuah Kisah iman dari Stasi Yesus Gembala Baik Poleang, Kab. Bombana

Pada Rabu, 12 Agustus 2026, bersama Romo Paskalis Oda, Pak Casimirus, dan Viko, kami berangkat menuju Stasi Yesus Gembala Baik, Poleang, Kabupaten Bombana, untuk merayakan Misa Requiem bagi almarhumah Ibu Nyoman Jarni (ibu dari Pak Kadek). Perjalanan dari pusat paroki memakan waktu kurang lebih empat jam. Kendaraan kami terus melaju menyusuri jalan yang panjang, melewati bentangan alam yang seolah tidak pernah kehabisan cara untuk mengagumkan mata. Di satu sisi, laut membentang luas dengan ketenangannya. Pohon-pohon kelapa berdiri menjulang, seakan menjadi saksi perjalanan kami. Bukit Teletubbies dengan warna brown season-nya (karena musim kemarau) menghadirkan pemandangan yang indah dan khas. Namun di balik keindahan alam sepanjang perjalanan itu, hati kami perlahan dibawa menuju sebuah kenyataan yang jauh lebih dalam yaitu kami sedang menuju sebuah tempat di mana iman Katolik tinggal dalam kesunyian.

Sesampainya di Poleang, suasana duka menyelimuti kami. Ibu Nyoman Jarni telah pergi menghadap Tuhan.  Kami datang dalam suasana duka, tetapi justru di tengah kedukaan itu kami menemukan sebuah kesaksian iman yang hidup. Bayangkan kehilangan seorang ibu di tempat yang jauh dari pusat paroki, bayangkan ketika keluarga harus mengurus peti jenazah yang harus dipesan dari tempat yang jauh, mempersiapkan segala sesuatu di tengah keterbatasan, sementara umat Katolik di sekitar mereka  tidak ada, hanya ada saudara/i yang beragama muslim yang bersedia membantu tetapi mereka tidak begitu paham pengurusan jenazah menurut kepercayaan dan tradisi umat Katolik. Betapa beratnya! Namun keluarga itu tetap bertahan. Tidak ada banyak suara umat yang menyanyikan lagu-lagu liturgi. Misa Requiem berlangsung dalam kesederhanaan, dihadiri oleh beberapa orang saja, tetapi justru dalam kesunyian itulah iman mereka terasa begitu keras berbicara.

Kisah keluarga ini tidak berhenti disini. Dahulu, di tempat ini pernah ada tujuh KK (kepala keluarga) umat Katolik. Ada umat, ada kehidupan menggereja, ada keluarga-keluarga yang bersama-sama merayakan iman. Tetapi waktu berjalan, satu demi satu umat berpulang, anak-anak tumbuh dewasa dan karena situasi kehidupan serta pilihan pasangan hidup, akhirnya mengikuti keyakinan yang berbeda. Perlahan-lahan, jumlah umat semakin sedikit, sampai akhirnya yang tersisa hanyalah satu keluarga yaitu keluarga Pak Kadek bersama istrinya, tiga orang anak mereka yang masih kecil, dan ayah Pak Kadek. Mungkin bagi sebagian orang, satu keluarga bukanlah sebuah komunitas yang besar, tetapi di hadapan Tuhan, jumlah tidak pernah menjadi ukuran kesetiaan. Satu keluarga pun cukup untuk menjaga sebuah api iman tetap menyala.

Ketika mendengar kisah pak Kadek, hati saya terasa pilu. Bagaimana rasanya menjadi satu-satunya keluarga Katolik di tengah lingkungan yang mayoritas beragama Islam? Bagaimana rasanya ketika tidak ada banyak umat untuk diajak berdoa? Bagaimana rasanya ketika gereja tidak lagi penuh? Bagaimana rasanya ketika anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang hampir tidak memiliki teman sebaya yang seiman? Ada satu kalimat yang dikatakan Pak Kadek yang begitu membekas dalam hati saya. Sebagai seorang Katolik, ia merasa bahwa iman yang telah diterimanya adalah seperti emas. Sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang tidak boleh dibuang, sesuatu yang harus dijaga. Emas tidak diberikan untuk kemudian dilupakan, emas dijaga karena nilainya. Bagi Pak Kadek, demikianlah imannya. Ia telah menerima warisan iman Katolik dari kedua orang tuanya sebagai sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Karena itu, sebanyak apa pun tantangan yang datang, sesedikit apa pun umat yang tersisa, ia ingin tetap menjaganya sampai kapan pun. Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti Poleang akan kembali memiliki banyak umat Katolik. Ia tidak tahu apakah kelak Gereja itu akan kembali dipenuhi umat.  Tetapi satu hal ia tahu “Emas itu telah diterimanya dan ia tidak ingin kehilangan emas itu.”

Kesaksian Pak Kadek menjadi semakin nyata ketika kami mendengar cerita dari istrinya. Iman hidup dalam kebiasaan sederhana setiap hari. Mereka selalu berdoa pagi dan malam bersama. Setiap pukul enam pagi, pukul dua belas siang dan pukul enam sore mereka berhenti sejenak untuk berdoa Angelus dan yang lebih menyentuh hati, doa itu tidak hanya dipimpin oleh orang tua, ketiga anak mereka pun bergiliran memimpin doa. Bayangkan tiga anak kecil, mereka mungkin belum memahami sepenuhnya betapa beratnya menjadi satu-satunya keluarga Katolik di tempat itu. Mereka mungkin belum memahami sejarah tujuh KK yang dahulu pernah hidup. Mereka mungkin belum mengerti mengapa gereja mereka semakin sepi. Tetapi setiap hari mereka berdoa. Suara mereka mungkin masih kecil. Tetapi siapa tahu? mungkin suara kecil itulah yang suatu hari akan menjadi suara besar bagi Gereja. Mungkin dari rumah kecil itu Tuhan sedang menumbuhkan tiga benih panggilan. Mungkin dari tiga anak itulah Tuhan sedang menjaga masa depan iman Katolik di Poleang.

Pak Kadek dan keluarganya seperti bunga yang tumbuh di tanah yang tidak mudah. Mereka tetap mekar, tetap memberikan warna, tetap membawa keindahan, bukan karena keadaan di sekeliling mereka mudah, tetapi karena mereka memilih untuk tetap hidup dalam iman. Walaupun hanya satu keluarga yang tersisa, keluarga itulah Gereja. Rumah menjadi tempat iman diwariskan kepada anak-anak. Orang tua menjadi pewarta pertama. Dan setiap doa yang mereka ucapkan menjadi seperti sebuah lonceng kecil yang terus berbunyi, meskipun tidak banyak orang yang mendengarnya. Mungkin dunia melihat mereka  sebagai bagian yang kecil, tetapi Tuhan melihat mereka sebagai sebuah kesaksian, sebab mempertahankan iman ketika banyak orang bersama kita mungkin tidak terlalu sulit, yang jauh lebih sulit adalah tetap percaya ketika kita merasa sendirian dan keluarga ini memilih untuk tetap tinggal.

Dalam perjalanan pulang, kami sempat melewati gereja stasi yang kecil itu. Gereja Stasi Yesus Gembala Baik berdiri tenang di atas bukit. Kayu-kayu di bagian atasnya telah lapuk, dinding batu bata masih belum sepenuhnya selesai, bangunannya sederhana dan mulai retak, bahkan mungkin jauh dari gambaran gereja yang selama ini kita bayangkan. Gereja dengan bangunannya mulai tua, tetapi kisah iman ditempat ini terus bergaung. Terkadang kita terlalu mudah mengukur keberhasilan Gereja dari jumlah berapa banyak umat, berapa besar gedung, berapa meriah perayaan. Padahal mungkin Tuhan sedang mengajarkan kepada kita bahwa satu keluarga yang setia jauh lebih berharga daripada kerumunan yang datang hanya ketika keadaan mudah.

 Pertanyaan refleksi bagi Kita !

  1. Jika suatu hari jumlah umat berkurang, apakah iman kita juga akan berkurang?
  2. Jika Gereja kita tidak lagi penuh, apakah kita masih akan datang?
  3. Jika tidak ada banyak orang yang melihat, apakah kita masih mau melayani?
  4. Jika tidak ada tepuk tangan, apakah kita masih mau setia?
  5. Jika kita harus menjadi sedikit, apakah kita masih berani menjadi terang?

Keluarga di Poleang memberikan jawabannya tanpa banyak kata, mereka hanya tetap tinggal, tetap berdoa, tetap percaya, tetap menjadi Katolik. Justru karena itulah mereka menjadi sebuah kesaksian yang begitu kuat.

Ibu Nyoman Jarni telah pergi, namun mungkin Tuhan sedang meninggalkan sebuah pesan melalui kepergiannya. “Hidup manusia memang sementara, tetapi iman yang diwariskan dapat terus hidup. Seorang ibu telah pergi, tetapi doa-doa yang pernah ia ajarkan kepada anak dan cucu-cucunya tidak harus ikut pergi, sebuah keluarga boleh semakin kecil, tetapi kasih Tuhan tidak pernah mengecil.” Sebuah stasi boleh tampak sunyi, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan tempat yang sunyi itu. Keluarga Pak Kadek adalah seperti bunga yang tumbuh di antara bebatuan. Tidak banyak yang memperhatikannya, tidak banyak yang memujinya, namun bunga itu tetap mekar, tetap memberikan warna, tetap menunjukkan bahwa kehidupan dapat tumbuh bahkan di tempat yang paling sunyi. Mungkin itulah panggilan kita sebagai orang beriman yaitu “tidak harus menjadi bunga yang tumbuh di taman yang ramai, tetapi berani menjadi bunga yang tetap mekar di tempat yang sunyi.” Pada dasarnya tidak semua bunga ditanam untuk dilihat banyak orang, ada bunga yang mekar hanya untuk mengingatkan bahwa Tuhan masih hadir dan mungkin, di ujung Poleang itu, Tuhan sedang menanam sebuah bunga kecil bernama iman. Bunga itu mungkin tidak besar, tidak mencolok, tetapi masih hidup.

Menjadi pertanyaan bagi kita, seberapa berhargakah iman bagi kita? Apakah kita menjaganya? Bagi para orang tua apakah kita mewariskannya kepada anak-anak kita? Apakah anak-anak melihat dari kehidupan kita bahwa Tuhan sungguh berharga? Saat ini kita hidup di tempat di mana gereja mudah ditemukan, misa mudah diikuti, umat banyak, jadwal misa tersedia, tetapi justru karena semuanya mudah, kita sering lupa bahwa iman adalah harta yang harus dijaga. Sementara di Poleang, satu keluarga harus berjuang menjaga sesuatu yang mungkin bagi kita terasa begitu biasa. Mereka tidak memiliki banyak umat, tetapi mereka memiliki kesetiaan.

Selama masih ada satu keluarga yang mau berdoa, anak-anak yang masih belajar mengenal Tuhan, satu ayah yang tetap setia, satu ibu yang mengajarkan iman kepada anak-anaknya, dan satu hati yang masih percaya Iman itu belum padam. Harapan itu belum selesai, terkadang Tuhan tidak membutuhkan banyak orang untuk menjaga api-Nya tetap menyala. Tuhan hanya membutuhkan beberapa hati yang setia dan di Poleang kami melihatnya. Sebuah keluarga kecil, sebuah gereja kecil, sebuah komunitas yang hampir hilang, namun  ada iman yang masih menyala. Seperti bunga yang tetap mekar di tengah sunyi, mereka mengajarkan kepada kami bahwa kesetiaan tidak diukur dari seberapa banyak orang yang berjalan bersama kita, melainkan dari seberapa teguh kita tetap berjalan bersama Tuhan ketika semua orang telah pergi.

Oleh:

Sr. Rosaliani Tovan W, SJMJ

Ketika banyak orang pergi, Tuhan meneguhkan mereka yang tetap bertahan untuk membuktikan bahwa iman tidak pernah bergantung pada jumlah.

Poleang – Bombana, 12 Agustus 2026

Leave a comment

error: Content is protected !!