Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Diterima dalam Anugerah, Diutus sebagai Kabar Sukacita

Ketika saya merenungkan perjalanan menuju tahap kaul kekal, hati saya saat itu dipenuhi rasa syukur yang mendalam. Panggilan yang saya terima ini bukanlah saja buah dari kesetiaan dan kemampuan, maupun kelayakan saya. Akan tetapi, semua berawal dari kasih Allah yang lebih dahulu membentuk, memilih dan menerima saya. Bahkan dari sebelum saya mampu untuk berkata “YA”, Tuhan telah memanggil dengan nama saya. Saya pun sungguh mengalami bahwa saya diterima dan dibentuk dalam anugerah melalui Kongregasi Suster-Suster Jesus Maria Joseph. Dalam proses penuh rahmat ini saya belajar untuk lebih mengenal dan menyadari segala keterbatasan, kerapuhan dan kelemahan diri, serta membiarkan Tuhan membentuk hati saya menjadi serupa dengan hati-Nya. Pada Konstitusi Kongregasi Suster-Suster JMJ Artikel 36 tertulis bahwa “Panggilan hidup kita sebagai religius adalah anugerah khusus yang berakar dari sakramen baptis dan penguatan.” Dan hal ini berkaitan pula dengan tema kaul kekal tahun ini yaitu “Diterima dalam Anugerah, Diutus sebagai Kabar Sukacita”. Dan motto ini bukan hanya sebuah motto, melainkan hasil permenungan dari pengalaman nyata yang Tuhan berikan sepanjang perjalanan panggilan ke empat belas Suster yang berkaul kekal tahun 2026.

Salah satu pengalaman nyata yang meneguhkan iman panggilan saya, ketika di sebuah ruang cuci yang begitu sunyi, saya berdiri menatap setumpuk pakaian yang penuh bercak darah. Bau darah cukup menyengat membuat saya spontan menarik nafas panjang. Saat itulah saya menyadari bahwa Tuhan sedang mengarahkan hati saya pada-Nya. Pikiran saya saat itu bahwa Tuhan sedang memurnikan hati saya melalui pakaian yang penuh dengan darah. Gumpalan darah yang menempel pada pakaian menghantar saya sampai pada kehadiran Kristus yang menderita dalam diri sesama. Kristus yang rela menumpahkan darah-Nya demi menebus dosa-dosa saya. Darah itu bukan sekedar noda, tetapi sebuah kisah tentang pengorbanan, penderitaan dan kasih yang terus mengalir tanpa henti. Dan saya menyadari bahwa tangan saya bukan hanya mencuci melainkan hati saya yang tergerak untuk belajar mencintai Kristus dengan cara yang baru. Pengalaman berharga ini menjadi pelajaran yang menghantar saya arti sebuah belas kasih, rendah hati dan cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

Dalam proses pembinaan saya menemukan begitu banyak warisan dari Pater pendiri dan para suster pendahulu sehingga mampu memotivasikan saya untuk semakin menghayati serta menghidupi spiritualitas dan semangat karisma Kongregasi SJMJ. Penghayatan ini terinspirasi dari pesan Pater Mathias Wolff, SJ yang tertulis dalam buku RMK hal. 14 tentang “ Kita tidak memilih jalan kita sendiri, tetapi kita bersama-sama membentuk satu kesatuan suster-suster yang diutus ke tempat-tempat di mana orang-orang membutuhkan kita.” Dari pesan spiritualitas ini mampu menguatkan saya untuk menyaksikan setiap karya sebagai sebuah rahmat dan berkat yang menghadirkan kasih Allah yang lemah lembut dan penuh belas kasih kepada setiap orang. Dengan penghayatan hidup sebagai anggota Suster SJMJ, saya harus mampu menjadi perempuan-perempuan fajar bukan fajar yang membangunkan saya melainkan saya lah yang membangunkan fajar. Dan ketika menjadi perempuan-perempuan fajar, saya siap ditantang untuk masuk dalam kegelapan dunia serta menjumpai orang-orang yang menderita untuk duduk bersama mendirikan kemah sebagai tanda kehadiran yang membawa harapan di tengah dunia dan mewartakan sukacita Injil.

Hari ini Rabu, 29 Juli 2026 dengan mengingat setiap anugerah dan kebaikan Tuhan dalam hidup panggilan, saya memberanikan diri untuk mengulurkan tangan dan menggandeng tangan Tuhan berjalan menuju bait-Nya yang Kudus akan menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Kaul kekal bukanlah suatu keberhasilan atau garis akhir dalam perjalanan panggilan saya. Melainkan jawaban kasih atas kasih yang sejak awal, sebab Tuhan lah yang telah menenun saya sejak dalam kandungan ibuku (bdk. Mzm 139:13). Kini setiap langkah menjadi milik Tuhan, setiap pelayanan menjadi tanda kasih Tuhan dan saya yang telah diterima dalam anugerah, kini dengan hati yang dipenuhi rasa syukur, siap diutus sebagai kabar sukacita. Dan menjadi akhir dari rasa syukur saya bahwa saya percaya ketika “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” Filipi 3:13-14.

Oleh:

Sr. Paulina Trisna Ayu, SJMJ

Pada hari ulang tahun Kongregasi SJMJ ke-204 tahun hadir dan berkarya di dunia

Jakarta, 29 Juli 2026

Leave a comment

error: Content is protected !!