Ada perjalanan yang tidak dimaksudkan untuk mengubah pemandangan di depan mata kita, tetapi untuk mengubah pemandangan di dalam hati kita.
Hari Minggu, 5 Juli 2026, menjadi sebuah perjalanan yang penuh makna. Bersama RD Paskalis Oda, RD San Fransisco Usmini, Pak Paskalis, Mama Ingrid, serta teman-teman Orang Muda Katolik (OMK), kami berangkat menuju Stasi Santo Yakobus Lasusua untuk merayakan Ekaristi Hari Minggu. Stasi Santo Yakobus Lasusua merupakan salah satu stasi yang paling jauh dari Paroki Santo Clemens Kolaka. Dari pusat paroki, perjalanan menuju stasi ini memakan waktu kurang lebih empat jam. Jalan yang panjang dan berliku menjadikan setiap detik perjalanan sebagai bagian dari sebuah permenungan. Setiap tikungan jalan, setiap kilometer yang kami lalui, dan setiap jam yang kami tempuh seakan mengingatkan bahwa Injil tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah. Mengikuti Kristus selalu menuntut hati yang rela melangkah lebih jauh, mengasihi lebih dalam, dan memberi lebih banyak daripada sekadar apa yang terasa nyaman.
Ketika akhirnya kami tiba, rasa lelah itu seolah menghilang dalam sekejap. Senyum umat, sambutan mereka yang penuh sukacita, dan kehangatan yang memancar dari kesederhanaan mereka menyapa kami bahkan sebelum sepatah kata pun terucap. Kami datang dengan pikiran bahwa kami membawa Kristus kepada mereka. Namun ternyata, Kristuslah yang telah lebih dahulu menunggu kami melalui kehidupan mereka yang sederhana namun penuh iman. Kemudian pandangan saya tertuju pada tempat mereka merayakan Ekaristi. Dalam hati berguman “Itu bukan sebuah Gereja”, dan menurut penjelasan ketua Stasi itu adalah rumah doa sederhana yang dahulu adalah rumah kos, tetapi diubah menjadi tempat umat berkumpul untuk beribadah. Hingga hari ini, umat Katolik di sana masih menantikan izin untuk membangun gereja.
Dalam persekutuan mereka ditempat ini, mereka saling mengingatkan agar tidak bernyanyi terlalu keras dan memainkan organ dengan suara yang pelan. Bukan karena sukacita mereka berkurang, tetapi karena mereka telah belajar hidup dengan penuh kebijaksanaan dan kehati-hatian di tengah masyarakat yang mayoritas menganut agama lain. Mereka berusaha menjaga keharmonisan, menghindari kesalahpahaman, dan tidak ingin kehadiran mereka menimbulkan respons yang dapat semakin mempersulit perjalanan iman yang sedang mereka hidupi.
Saat lagu-lagu liturgi dilantunkan dengan suara yang lirih, hati saya justru semakin terharu. Saya menyadari bahwa Tuhan tidak mengukur penyembahan dari seberapa keras suara kita bernyanyi. Tuhan memandang hati yang berdoa dengan tulus. Nyanyian mereka mungkin terdengar pelan, tetapi iman mereka bergema begitu kuat. Keheningan mereka bukanlah tanda kelemahan ataupun ketakutan, melainkan sebuah kesaksian tentang kebijaksanaan, kesabaran, dan kasih yang terus memilih jalan damai.
Iman tidak pernah bergantung pada dinding-dinding bangunan. Iman selalu bertumpu pada hati. Di sana tidak ada tiang-tiang yang megah, tidak ada kaca patri yang memantulkan cahaya matahari, tidak ada lonceng gereja yang memanggil umat dari kejauhan. Namun keheningan rumah doa itu dipenuhi oleh sesuatu yang jauh lebih agung, iman yang teguh dari umat yang terus percaya kepada Tuhan.
Menjadi komunitas Katolik yang kecil di tengah masyarakat yang mayoritas beragama lain tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Kerinduan mereka untuk memiliki gereja sendiri masih menjadi harapan yang terus mereka bawa dalam doa. Namun saya tidak melihat kemarahan, tidak melihat kebencian, dan tidak menemukan kepahitan. Yang saya lihat justru adalah orang-orang yang telah belajar berharap tanpa kehilangan damai, menunggu tanpa menyerah, dan mengasihi tanpa menuntut pengakuan. Iman mereka menjadi homili terindah yang saya dengarkan hari itu.
Di tengah perayaan Ekaristi, saya memahami bahwa Gereja tidak pernah lahir dari beton dan semen. Gereja lahir dari orang-orang yang tidak pernah berhenti percaya. Mungkin itulah sebabnya Kristus terasa begitu dekat di rumah doa yang sederhana itu. Karena sejak awal, Kristus selalu memilih tempat-tempat yang sederhana. Ia lahir di sebuah kandang. Ia mewartakan Kerajaan Allah dari atas perahu dan di lereng-lereng bukit. Ia memecah-mecahkan roti di rumah-rumah yang biasa. Dan pada hari Minggu itu, sekali lagi Ia memilih tinggal di sebuah bangunan sederhana bekas rumah kos yang telah menjadi rumah kudus bagi umat-Nya.
Saat kami meninggalkan
Lasusua, saya menyadari bahwa perjalanan terjauh hari itu bukanlah perjalanan dari Pomalaa menuju Lasusua, melainkan perjalanan hati yang perlahan dibawa Tuhan untuk melihat-Nya bekerja dalam setiap perjumpaan. Terkadang, kaki hanya berpindah tempat, tetapi hati sedang menempuh perjalanan menuju iman yang lebih dalam. Kami pulang dengan penuh sukacita setelah berjumpa dengan gereja-gereja yang sungguh hidup dalam diri umat Allah disana. Tuhan membawa kami ke salah satu stasi yang paling jauh untuk mengingatkan kami akan apa yang sesungguhnya diciptakan oleh mukjizat Ekaristi yaitu persekutuan umat yang imannya tidak dapat dibatasi oleh tembok, tidak dapat ditunda oleh keadaan, dan tidak dapat dipadamkan oleh ketidakpastian. Karena pada akhirnya, Gereja adalah umat yang di dalamnya Kristus hidup.
Oleh:
Sr. Rosaliani Tovan W, SJMJ
Perjalanan yang paling melelahkan justru membawa kita kepada perjumpaan yang paling indah.
Lasusua – Kolaka Utara, 5 Juli 2026

4 Comments
Debi Anastasia
Aku cengeng 😭 Terharu bacanya semoga kerinduan Umat stasi lasusua beridah di gedung Gereja sendiri segera Terwujud 😇
generalate
Aminnn🙏😇♥️
Mei
Terima kasih untuk tulisan yang sangat menginspirasi sr… Sangat terharu membacanya. Semoga umat Allah di Lasusua tetap semangat, tetap teguh dan kokoh kuat imanya
generalate
😇🌹